Thursday, 27 September 2018

Aliran rasa

Aliran rasa komunikasi produktif

Setelah menjalani tantangan komunikasi produktif banyak sekali perubahan yang terjadi di keluarga kecil kami, terutama cara berkomunikasi ke anak-anak dan suami. 

Bersyukur awal materi di kelas IIP adalah komunikasi produktif, terus terang materi dan tantangan 10 day  ini membuat saya menjadi percaya diri menjadi seorang ibu yang terus belajar, belajar mencari tahu letak kesalahan saya berkomunikasi ke anak-anak, dan belajar bagaimana cara memperbaikinya. 
Dan hal ini membuat saya semakin optimis untuk terus melakukan perubahan komunikasi ke anak-anak.

Apa yang saya lakukan dalam Tantangan 10 day mungkin belum maksimal, masih banyak drama setiap harinya, apalagi saya harus berusaha menerapkan ke ketiga anak saya yang masih balita dan masing-masing ingin di beri perhatian yang lebih. Awalnya memang terasa sulit untuk menerapkan komunikasi yang produktif, tapi setelah beberapa hari menjalani tantangan ini, rasanya anak-anak lebih tenang dan dramanya berkurang. 

Dan pelajaran penting bagi saya, komunikasi bukan hanya soal bicara semata, tapi juga bagaimana  menggunakan perasaan dalam berbicara.


Saturday, 15 September 2018

Mengubah Nasehat menjadi Refleksi Pengalaman

Mengubah Nasehat menjadi Refleksi Pengalaman

Terdengar suara kakak salsa menangis dari ruang tamu, sepertinya lagi mencari-cari sesuatu.

" Kenapa nak ?" Tanyaku heran
" Mana ini mainan ku ibu." Sambil memperlihatkan puzzle nya.
" Memangnya simpan dimana ki ?" Simpan baik-baik ki mainan ta kalau sudah main, biar tidak capek ki cari lagi." Kataku menghakimi.

Mendengar perkataanku kakak malah bertambah sedih dan suaranya tangisannya semakin keras.

Sepertinya saya salah, dan malah mengatakan sesuatu yang membuatnya bertambah sedih. Jadi Ingat dengan materi komunikasi produktif, " Mengganti nasehat dengan refleksi pengalaman". Dan mulai mencobanya.

" Ibu juga dulu sering kehilangan mainan nak, rasanya sedih sekali, makanya Ibu sekarang suka menyimpan kembali mainan ketempatnya, biar mainannya tidak susah di cari."

Setelah berkata seperti itu kakak berhenti menangis, amazing..hehe

Lalu kakak pergi mengambil sesuatu.
" Ibu, mainan ku simpan di sini ya, supaya tidak hilang-hilang lagi."

" Iye nak boleh, simpan mi puzzle ta disitu, jadi tidak terhambur lagi."

Dan akhirnya puzzle kakak punya tempat baru. :)

#gamelevel1
#day10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbundasayang
#institutibuprofesional



Menunjukkan Rasa Empati Ke Anak

Menunjukkan Rasa Empati ke Anak.

Siang ini seperti biasanya waktunya anak-anak tidur siang. Tapi mereka masih sibuk dengan permainan.

" Ayo, tidur siang nak ".

" Sebentar ibu. " kata ade' Rafif

" oh iye, main sebentar saja, terus bobo siang ya.".

Setelah beberapa menit kemudian, saya mengajak mereka kembali untuk tidur siang.

" Ayo, kumpul mainannya, setelah itu bobo ki.

Kakak dan adik aisyah pun mulai mengumpulkan mainannya ke dalam box tempat mainan. Tapi ade' rafif marah dan berteriak.

" Jangan Kumpul, masih mau ka main". Katanya teriak dan mulai menangis.

" Mau ade' rafif yang kumpul mainannya atau Ibu yg kumpulkan terus Ibu simpan di atas lemari ?" Masih dengan intonasi suara seperti biasa, tanpa bentakan.

" Capek ka Ibu..". Katanya teriak mengeluh dan menangis.

" Ya sudah kalau capek, ade' afif pergi bobo di kamar, biar ibu sama kakak salsa dan ade aisyah yang rapikan mainannya." Kataku mulai jengkel dan dengan suara yang sedikit keras.

" Capek ka Ibu, jangan ki kumpul mainan ku."

" Capek kenapa ? Sudah kerja apa ? Kataku dengan suara yang sedikit keras dan membentak. Dan ia hanya menangis dengan suara keras.

" Ibuuu... Sayang...". Katanya minta di peluk. Dan saya masih sibuk merapikan mainan.

" Ibuu.. Sayaang.." Merengek minta dipeluk. Anak-anak saya memang selalu minta di sayang ( dipeluk ) ketika saya marah.

Saya perhatikan dia yang menangis. " Ya Allah sepertinya saya salah ", diam sejenak beristigfar. Lalu saya peluklah ia, mencoba untuk berkomunikasi yang produktif.

" kenapa ki nak ? Capek kah ade' Rafif ?" Kataku sambil mengusap usap punggungnya.

" Iye, bu capek ka." Katanya

" Kalau capek istirahat ki main nak, bobo siang ki dulu,   baru main lagi."
Biar Ibu yang rapikan mainan ta.
Mau ki kah bantu Ibu dulu rapikan mainan ta ?"

" Iye, sama-sama ki kumpul i".

Bahagia dengan jawabannya, mencoba komunikasi produktif dan menunjukkan empati ke anak, rasanya benar-benar luar biasa. Walaupun tadi sempat marah dan membentak. 

Dan akhirnya ade' afif ke kamar untuk tidur siang. Saya temani dia dan ingin segera meminta maaf kepadanya.

" bobo mi nak, capek ki itu main. Minta maaf Ibu nak, tadi marahi ade' afif. Besok besok kalau bicara ki pelan pelan saja suara ta nak, tidak boleh teriak-teriak lagi.

" Iye ibu." Katanya.

Dan ia pun tertidur.

#gamelevel1
#day9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbundasayang
#institutibuprofesional









Friday, 14 September 2018

Saat Mereka Bahagia Katakan Apa yang Kita Inginkan.

Katakan Apa yang Kita Inginkan
 
Selalu ada yang bertanya, bagaimana rasanya punya banyak anak yang masih kecil, pasti repot ya ?
dan selalu dengan jawaban yang sama, saya sangat menikmati peran saya sebagai seorang Ibu saat ini, kalau di tanya repot atau tidak dengan 4 anak kecil, saya lebih merasa kerepotan dengan anak satu di banding dengan 4 anak. Kenapa ? karena punya empat anak itu seru, jadi punya teman untuk bersih-bersih, punya teman makan, punya partner untuk menjaga anak, jadi saya merasa bahagia-bahagia saja memiliki 4 anak.

Terus ada yang bilang, kalau semuanya nangis bersamaan, bagaimana ? Ya saya mencoba untuk menenangkan satu-satu, di mulai dari kakak lalu ke adik-adiknya. sederhana saja, hanya saja lebih ke usaha agar diri tetap waras dengan suara tangisan 4 anak. Jika merasa lelah tarik nafas panjang dan hembuskan lewat mulut, perbarui niat, semua karena Ibadah kepada Allah.

Apalagi setelah beberapa hari ini menjalani tantangan untuk komunikasi produktif ke anak-anak, rasanya semakin bahagia membersamai mereka, mereka jadi lebih tenang dan lebih nurut kata Ibunya.
sangking menikmati perubahan yang terjadi beberapa hari ini, jadi lupa untuk menyetor tugas tantangan. dan mereka jadi lengket terus ke Ibunya.

Berhubung mereka lagi tenang dan terlihat bahagia, saya ajak mereka untuk makan rujak sore ini.

" Ini bumbu rujaknya pedas ya nak, jangan di makan, makan buahnya saja".

tapi karena mereka lihat saya makan bumbu rujaknya, maka mereka pun mencoba, dan saya biarkan saja mereka untuk mencobanya, toh, mereka akan berhenti sendiri kalau memang merasa  itu pedis.

Tapi ternyata, mereka malah menyukainya dan terus memakannya. bahkan setelah buahnya habis mereka masih mencolek-colek bumbu rujaknya sampai habis dan piringnya bersih.

Saat bersama makan rujak, Saya selalu  mencoba untuk mengatakan apa yang saya inginkan ke mereka.

" Pintar anak Ibu, makannya sama-sama, Ibu mau kakak sama ade' akur terus ya, mainnya sama-sama, belajar sama-sama, makannya sama-sama, pokoknya sama-sama terus ya nak."

mereka diam saja mendengar, dan saya lanjut lagi " Jadi anak pintar yaa, jadi Anak sholeh dan sholehah, terus jadi apa lagi nak ?

si kakak menjawab," jadi anak yang sabar biar di sayang Tuhan."

dan saya tertawa mendengarnya, ini karena saya sering sekali berkata seperti ke mereka.

Selalu berusaha untuk mengatakan apa yang kita inginkan ke anak-anak di saat perasaan mereka bahagia, kegiatan ini akan berdampak baik ke anak-anak, akan tertanam di alam bawah sadarnya, dan tentunya menjadi do'a. InsyaAllah.

#gamelevel1
#day8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbundasayang
#institutibuprofesional.










Thursday, 13 September 2018

Ganti Kata Tidak Bisa, Menjadi Bisa

Ganti Kata Tidak Bisa, Menjadi Bisa

"Tidak bisa Ibuuuu, kenapa susah sekali ?"

Keluhan kakak salsa karena susah untuk menyusun kembali puzzle nya. puzzle nya dipukul-pukul dan mulai menangis lah dia.

"Bisaaaa.. coba lagi perbaiki puzzle nya". kataku mencoba memberikan semangat agar kakak tidak patah semangat menyelesaikannya.

" tidak bisa Ibu, bagaimana caranya ?" ia mulai marah dan dilempar lah puzzle nya.

dan saya antara ingin sekali tertawa dan marah melihat tingkahnya. Lucu melihatnya menangis karena tak sanggup menyusun kembali puzzle nya, dan mau marah karena kakak melempar puzzle nya sebagai bentuk kekesalannya.

saya dekati dia, duduk dekatnya dan memeluk pundaknya, mencoba komunikasi produktif dengan rumus 7-38-55 ( suara-intonasi suara-bahasa tubuh).

" Perbaiki nak, kakak salsa pasti bisa".

"Ayo, mainannya di ambil lagi"

dan akhirnya, kakak mengambil kembali puzzle nya, dan memulai kembali menyusunnya, tapi masih dengan keluhan.

" Tidak bisa Ibu, tidak bisa ini".

" Bisa nak, coba pasang yang ini disini". kataku mulai membantu memberikan arahan tapi ia mulai tidak peduli, sepertinya ia benar-benar sudah menyerah.

"Mau Ibu yang pasang atau kakak yang pasang?". Mencoba untuk komunikasi produktif lagi, mengganti perintah dengan pilihan.

" saya saja ibu yang pasang " 

" Tuh kan, kakak bisaa, hebat..!!!" lagi-lagi dengan komunikasi produktif mengganti kata tidak bisa menjadi bisa, agar ia tidak mudah menyerah dan mau berusaha.

dan akhirnya ia berhasil menyusun kembali puzzle nya.

" Kakak hebat, tidak menyerah dan sudah mau coba menyelesaikannya."

sedikit pujian agar anak-anak merasa dihargai atas usahanya.

Setelah beberapa hari mempraktekkan komunikasi produktif , rasanya anak-anak lebih mengerti dan mau mendengar perkataan saya, dan emosi jadi lebih terkontrol, rumah terasa sedikit lebih aman, tentram dan damai. hehe

#gamelevel1
#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbundasayang
#institutibuprofesinal





Tuesday, 11 September 2018

Katakan Apa Yang Kita Inginkan, Bukan Yang Tidak Kita Inginkan

Ketika Perasaannya Terluka

Adakah bagi seorang Ibu tanpa penyesalan setiap harinya ? rasanya seperti ada yang sakit di sini, sepeti tertusuk sesuatu, tapi entah apakah itu ? sakit karena melakukan kesalahan yang sama berkali-kali, sakit karena tak mampu menjadi yang terbaik. Tak dapat memahami perasaan dan hati kecil mereka.
" Ibu, berhenti dulu..... (Saat Ibunya mulai sibuk)
" Ibu, dengarkan dulu....(saat Ibunya mulai lelah)
" Ibu, Jangan....(saat Ibunya membersihkan mainan)
" Ibu, Sakit.... (saat Ibunya mulai mencubit)

dan ada lebih banyak kata-kata keluhan yang keluar dari mulut mereka, tapi sikap acuh itu masih saja sama hingga saat ini, dan akhirnya saat bentakan menyakiti perasaan mereka, mereka hanya bisa berkata.

" Ibuuu, Sayaaang...". merengek untuk di peluk.

dan akhirnya, mereka yang merengek minta untuk di maafkan. yang katanya orang tua malah merasa paling benar. 

hari ini hanya ada banyak sekali kata "MAAF" untuk mereka yang selalu tersakiti perasaannya dan merasa terabaikan. Maafkan Ibu.

Ketika Anak saya yang pertama mulai marah dan membentak, dan berkata,

 " Merajut-merajut terus..!!".

dan ia mulai menangis, saya yang masih kaget mendengar keluhannya, akhirnya memeluknya. dan berusaha menahan tangis. 

" Kenapa nak ?".

dan hanya tangisan saja yang terdengar, sepertinya dia benar-benar merasa terabaikan.
padahal selama ini saya mengira bahwa semuanya baik-baik saja, di saat mereka bermain, terkadang saya merajut sesaat untuk menyelesaikan pesanan tas orang. ternyata hal ini membuat kakak merasa di abaikan.

setelah perasaan anak pertama saya sudah tenang, saya panggil kedua adiknya, dan memeluk mereka bertiga, serta meminta maaf ke mereka.

" Ibu, Minta maaf ya nak kalau merajut terus, Ibu temani main lagi ya."

" Ibu juga mau, kakak mau selalu cerita yang jujur sama Ibu. Tentang apapun itu. Oke.. ? sambil menatapnya dan mengulangi kata oke, oke dan oke. dan ia hanya tertawa.

dan sekali lagi meminta maaf,

" Ibu, minta maaf ya nak, karena selalu bikin kakak sedih dan menangis ".

#gamelevel1
#day6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbundasayang
#institutibuprofesinal










Monday, 10 September 2018

Jelas Dalam Memberikan Pujian dan Kritikan

Memberikan Pujian dan kritikan yang jelas pada anak.

Di tulisan blog saya yang kemarin tentang “Fokus pada solusi bukan masalah”, saya menuliskan juga untuk jangan lupa memberikan Pujian kepada anak, sebuah pujian yang jelas sebagai bentuk apresiasi kita terhadap  apa yang anak-anak lakukan, berani dan berusaha melakukan sesuatu, bagaimana pun hasil akhirnya nanti, yang penting anak-anak sudah mencoba. Karena dengan pujian yang sederhana saja, anak-anak merasa di hargai atas usaha yang telah mereka lakukan terlepas bagaimana pun hasilnya, hal ini membuat mereka ingin selalu mencoba tanpa takut gagal, dan pastinya mereka lebih percaya diri.

Seperti yang coba saya lakukan ke anak-anak.

“Wah, ade' Afif hebat siram tanaman, tanamannya jadi subur dan berbunga cantik” sambil menunjukkan bunga yang sudah mekar.

“Iye, Ibu.” Jawabnya dengan senyum bangga.

“Yang ini, kalau siramnya lebih banyak lagi pasti bunganya jadi lebih cantik”. Kritik ku singkat dan jelasa.

Tanpa  menunggu lama,  bunga pun di siram dengan air yang sedikit banyak.

Dan, keesokan harinya tanpa di beri arahan pun, Ia mengerjakan tugas  menyiram tanaman dengan suka cita.

Anak-anak sangat suka dengan pujian, dan tidak suka di kritik, sebagai orang tua, kita yang harus belajar bagaimana memberikan pujian yang jelas, begitu juga dengan kritikan, jangan terlalu berlebihan dalam mengkritik anak, anak-anak akan merasa tidak percaya diri untu semua yang mereka lakukan, mereka akan selalu merasa apa yang dikerjakannya salah. Seperti kritikan saya ke kakak kemarin.

“ Tidak begitu.. itu salah..”. kataku dengan kritikan yang tidak jelas, malah membuat kakak semakin bingung.

“ begini..? Eh.. salah.. begini bu?” sambil sesekali melihat ku, memastikan bahwa yang di kerjakannya sudah benar. Dan hal ini dilakukannya berkali-kali.

Di saat yang dilakukannya sudah benar kakak masih merasa tidak percaya diri, karena di awal tadi saya sudah mengkritik duluan, tanpa menjelaskan apa yang salah dan harus diperbaiki.
Maafkan Ibu nak, Ibu khilaf.. 

Saya dekati kakak, “ yang harus di perbaiki yang ini ya nak, yang lainnya sudah bagus”. Sambil mengangkat 2 jempol. Dan kakak pun tersenyum lebar.

“Kakak hebat, sudah berani mencoba walaupun tadi ada yang salah, tapi sudah diperbaiki, Karena sudah berani mencoba kakak dapat hadiah cuci piring”.

“Iye, horee..” teriaknya bahagia.

Anak saya yang pertama ini suka cuci piring, jadi bahagia sekali dapat hadiah cuci piring.hehe

Lebih ke main sabun cuci piringnya saja sih, cuci piringnya bisa sampai berjam-jam baru selesai, tak apalah yang penting anak bahagia.

#gamelevel1
#Hari5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbundasayang
#institutibuprofesional




Sunday, 9 September 2018

Fokus Pada Solusi bukan Masalah

Mengajarkan rasa Tanggung Jawab ke Anak-anak

Meminum teh di pagi hari, sudah menjadi kebiasaan keluarga kecil kami. Seperti biasa anak-anak mengambil bagiannya masing-masing untuk ditaruh di bawa lantai, dan duduk melantai bersama-sama menikmati teh hangat. 

" Berhenti, nanti teh nya tumpah". Kataku tak di hiraukan oleh anak-anak yang sibuk bermain.

Tiba-tiba, si adik menendang gelas teh yang ada di depannya.

"Tuh kan, Ibu bilang apa ? Nanti tehnya tumpah". Anak-anak malah saling menyalahkan satu sama lain, dan mulai terdengar suara tangisan dari mereka.

" Berhenti. Masih mau minum teh atau tidak ?
"Mau", jawab mereka.
" kalau mau minum teh lagi, teh yang tumpah ini dibersihkan dulu , kakak ambil kain lap dulu, lalu pel lantainnya. Adik ambil gelas baru lagi ya ?
"Iya", katanya masih dengan isak tangisnya.

Beberapa menit kemudian lantai menjadi bersih kembali, dan minum teh hangat di pagi hari tetap berlanjut.

Selalu ingat dengan kaidah "Fokus pada Solusi bukan masalah". Dalam keluarga kecil kami, kami sudah lama mencoba dan menerapkan hal ini, ketika anak-anak melakukan kesalahan, jangan memarahi mereka, apalagi sampai membentak, hal ini malah akan membuat mereka semakin takut dan belajar berbohong menutupi kesalahannya.

Cobalah untuk menasehati dengan lembut, lalu memberikan solusi dari setiap kesalahan yang dilakukan mau sengaja ataupun tidak sengaja. Hal ini sekalian melatih anak-anak untuk bertanggung jawab atas setiap hal yang dilakukannya, dan pastinya tidak ada kebohongan untuk menutupi kesalahan mereka.

Dan jangan lupa pujian untuk anak-anak kita karena berani memperbaiki kesalahannya.

#gamelevel1
#hari4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbundasayang
#intitutibuprofesional




Saturday, 8 September 2018

Kendalikan Intonasi Suara dan Gunakan Suara Ramah

Keajaiban Suara Lembut, senyuman, dan Bahasa Tubuh.

Bagaimana rasanya menjadi seorang Ibu yang memiliki banyak anak, tanpa asisten rumah tangga ? Dan saat bersamaan mereka menangis, teriak histeris, memanggil Ibunya.

"Ibuuuu..". Disertai tangisan dari 3 orang anak, dan teriakan.

Yang pastinya saya kaget, mendengar tangisan mereka dan melihat yang terjadi, karena saya tipe orang yang mudah sakit kepala saat mendengar suara ribut, dan hampir sj tanduk di kepala saya keluar, siap-siap untuk memarahi mereka.hehe

Tapi saya tetap mencoba menahan amarah. tarik napas panjang lalu hembuskan lewat mulut, saya lakukan berulang-ulang di depan anak-anak yang menangis histeris karena memperebutkan buku berwarna yang memang hanya satu. Setidaknya saya harus menjaga kewarasan saya sebagai Ibu di situasi yang seperti ini.

Saya jadi ingat tentang rumus 7-38-55%, selama ini saya masih banyak menggunakan suara, yang ternyata hanya 7 % mempengaruhi komunikasi kita ke anak, 38% dipengaruhi intonasi suara, dan 55% dipengaruhi oleh bahasa tubuh.

Dan mulai pertama kali bicara ke anak ke 2 saya, saya duduk dan menatap matanya " Kenapa nak menangis ?"
" bukuu.. Mau warnai itu..!! Masih dengan tangisan dan teriakan. Terus kakaknya ngomong, " buku ku ini, saya juga mau menggambar".
Jadi masalahnya di sini kakak yang tidak mau berbagi buku ke adiknya. Saya dekati lah si kakak dan adik, saya peluk pundak keduanya, "Nak, mewarnainya sama-sama, sebelah-sebelahan.. Kakak sebelah sini, dan adik sebelah sini." Sambil saya tunjukkan bagian masing-masing untuk menggambar.

Dan apa yang terjadi ? Berhasil..!!
Mereka jadi akur dan akhirnya sama-sama mewarnai buku gambarnya.

Tanpa harus teriak, bentakan, dan menakuti anak-anak agar mereka mau mendengar apa yang orang tuanya ucapkan, hanya dengan suara lembut, sentuhan dan bahasa tubuh seperti tersenyum dan memeluk, akan membuat anak dengan senang hati mengikuti instruksi dari orang tuanya.

#gamelevel1
#hari3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesinal








Friday, 7 September 2018

Keep Information Short & Simple


Terlalu banyak arahan, membuat anak-anak bingung
Seperti biasanya, di pagi hari anak-anak mengerjakan tugas masing-masing yang sudah menjadi kesepakatan bersama, kakak salsa dengan tugas menyapu dan memungut sampah, dan si adik rafif dengan tugasnya menyiram bunga, lalu adik aisyah membantu kakak pertamanya untuk membersihkan, dan pastinya masih dengan arahan saya.
“ Kakak salsa tugasnya menyapu ya, sampahnya jangan lupa di masukkan ke dalam tempat sampah, pakai sendok sampah ya nak, kalau sudah selesai sapunya di simpan kembali”.
Selesai arahan saya ke kakak salsa, selanjutnya ke adiknya rafif.
“ tugasnya siram bunga ya nak ?
“Iye” katanya.
“ kalau begitu ambil baskom, terus isi air dulu ya nak, sampai airnya penuh, baru pakai untuk siram bunganya.
Dan apa yang terjadi setelah saya berikan arahan ke mereka, tak ada satupun pekerjaan yang selesai. Gaya komunikasi saya sulit di terima oleh anak-anak yang hanya bisa menangkap informasi sepotong-sepotong.
Tapi tidak ada kata terlambat untuk memperbaikinya, Saya jadi ingat dengan materi komunikasi produktif  di kelas bunda sayang tentang “Keep Information Short & Simple (KISS), gunakan kalimat tunggal bukan majemuk.
Dan kesalahan saya saat memberi arahan. Terlalu banyaknya arahan yang saya berikan hingga membuat mereka bingung. Jadi sata coba dengan metode KISS.
“ Nak, Menyapunya sudah selesai ya ?”
“ Iye, Sudah”.
“Sampahnya masukkkan ke tempat sampah ya”.
Tidak butuh waktu lama anak saya sudah mulai memasukkan ke tempat sampah.
Begitu juga dengan adiknya, saya ulangi lagi arahan saya dengan metode KISS, dan alhamdulillah metode KISS ini cukup berhasil di terapkan ke anak anak-anak saya. Akhirnya tugas masing-masing selesai, dengan waktu yang lebih cepat dari biasanya.
Intinya adalah Membiarkan anak-anak untuk menyelesaikan satu aktivitas dulu, baru lanjut ke aktivitas lainnya.
foto di bawah ini, Ade' Afif lagi siram bunga.

#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional








Wednesday, 5 September 2018

“Mengubah Perintah Menjadi Pilihan”

“Mengubah Perintah Menjadi Pilihan”

Pagi ini seperti biasa, Ibu rumah tangga dengan segala kesibukannya, apalagi dengan 4 orang anak yang masih keci-kecil. Ibunya masih sibuk di dapur dan belum sempat beres-beres, mainan sudah mulai berserakan di lantai.

Ibu : “ Nak, Mainannya di rapikan dulu ya, Ibu mau menyapu dan mengepel.

Anak : “Tidak mau” jawab mereka kompak.

Saya diam, sedikit jengkel sih tapi harus sabar, dalam hati saya terus mengulang kata sabar, sabar, sabaaaarrrr.., sambil memikirkan dan menyusun kata-kata apa yang harus saya gunakan agar mereka mau mendengar perkataan Ibunya.
Karena mereka suka mandi, bukan suka sih, mungkin mereka berfikir mandi adalah waktunya bermain air.

I : “ Siapa yang mau mandi ?”.

A : “ Sayaaaaa”

Mereka kompak berdiri, melompat, dan angkat tangan. Dan saya mulai bahagia dengan respon mereka.

I : “ Tapi, mainannya di rapikan dulu ya. setelah rapi, baru kita mandi”.

Dan, mulailah mereka merapikan yang berserakan di lantai.

A : “ Ibu, boleh bawa mainan ini ya di kamar mandi ?”. Kata ade' Afif anak ke dua saya, sambil memegang mainan bebek kuning miliknya.

I : “ Boleh”.

Dan, akhirnya mainan kembali pada tempatnya, tanpa drama dan tangisan. Dan pastinya, anak-anak merasa tidak di perintah.

Ini salah satu komunikasi produktif & efektif dengan kaidah “ Mengganti kata perintah, dengan pilihan”. Sekaligus, mengajarkan mereka untuk berani mengambil keputusan secara sadar tanpa paksaan pihak luar. Dampknya sangat luar biasa, silahkan di coba. Mulailah merubah kalimat perintah menjadi pilihan, dan lihat hasilnya. :)

#hari1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesinal