Terlalu banyak arahan, membuat anak-anak bingung
Seperti biasanya, di pagi hari anak-anak
mengerjakan tugas masing-masing yang sudah menjadi kesepakatan
bersama, kakak salsa dengan tugas menyapu dan memungut sampah, dan si
adik rafif dengan tugasnya menyiram bunga, lalu adik aisyah membantu
kakak pertamanya untuk membersihkan, dan pastinya masih dengan arahan
saya.
“ Kakak salsa
tugasnya menyapu ya, sampahnya jangan lupa di masukkan ke dalam
tempat sampah, pakai sendok sampah ya nak, kalau sudah selesai
sapunya di simpan kembali”.
Selesai arahan
saya ke kakak salsa, selanjutnya ke adiknya rafif.
“ tugasnya
siram bunga ya nak ?
“Iye”
katanya.
“ kalau begitu
ambil baskom, terus isi air dulu ya nak, sampai airnya penuh, baru
pakai untuk siram bunganya.
Dan apa yang
terjadi setelah saya berikan arahan ke mereka, tak ada satupun
pekerjaan yang selesai. Gaya komunikasi saya sulit di terima oleh
anak-anak yang hanya bisa menangkap informasi sepotong-sepotong.
Tapi tidak ada
kata terlambat untuk memperbaikinya, Saya jadi ingat dengan materi
komunikasi produktif di kelas bunda sayang tentang “Keep Information Short & Simple
(KISS), gunakan kalimat tunggal bukan majemuk.
Dan kesalahan
saya saat memberi arahan. Terlalu banyaknya arahan yang saya berikan
hingga membuat mereka bingung. Jadi sata coba dengan metode KISS.
“ Nak,
Menyapunya sudah selesai ya ?”
“ Iye, Sudah”.
“Sampahnya
masukkkan ke tempat sampah ya”.
Tidak butuh waktu
lama anak saya sudah mulai memasukkan ke tempat sampah.
Begitu juga
dengan adiknya, saya ulangi lagi arahan saya dengan metode KISS, dan
alhamdulillah metode KISS ini cukup berhasil di terapkan ke anak
anak-anak saya. Akhirnya tugas masing-masing selesai, dengan waktu
yang lebih cepat dari biasanya.
Intinya adalah
Membiarkan anak-anak untuk menyelesaikan satu aktivitas dulu, baru
lanjut ke aktivitas lainnya.
foto di bawah ini, Ade' Afif lagi siram bunga.
#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang

No comments:
Post a Comment