“Mengubah Perintah Menjadi Pilihan”
Pagi ini seperti biasa, Ibu rumah tangga dengan segala kesibukannya, apalagi dengan 4 orang anak yang masih keci-kecil. Ibunya masih sibuk di dapur dan belum sempat beres-beres, mainan sudah mulai berserakan di lantai.
Ibu : “ Nak, Mainannya di rapikan dulu ya, Ibu mau menyapu dan mengepel.
Anak : “Tidak mau” jawab mereka kompak.
Saya diam, sedikit jengkel sih tapi harus sabar, dalam hati saya terus mengulang kata sabar, sabar, sabaaaarrrr.., sambil memikirkan dan menyusun kata-kata apa yang harus saya gunakan agar mereka mau mendengar perkataan Ibunya.
Karena mereka suka mandi, bukan suka sih, mungkin mereka berfikir mandi adalah waktunya bermain air.
I : “ Siapa yang mau mandi ?”.
A : “ Sayaaaaa”
Mereka kompak berdiri, melompat, dan angkat tangan. Dan saya mulai bahagia dengan respon mereka.
I : “ Tapi, mainannya di rapikan dulu ya. setelah rapi, baru kita mandi”.
Dan, mulailah mereka merapikan yang berserakan di lantai.
A : “ Ibu, boleh bawa mainan ini ya di kamar mandi ?”. Kata ade' Afif anak ke dua saya, sambil memegang mainan bebek kuning miliknya.
I : “ Boleh”.
Dan, akhirnya mainan kembali pada tempatnya, tanpa drama dan tangisan. Dan pastinya, anak-anak merasa tidak di perintah.
Ini salah satu komunikasi produktif & efektif dengan kaidah “ Mengganti kata perintah, dengan pilihan”. Sekaligus, mengajarkan mereka untuk berani mengambil keputusan secara sadar tanpa paksaan pihak luar. Dampknya sangat luar biasa, silahkan di coba. Mulailah merubah kalimat perintah menjadi pilihan, dan lihat hasilnya. :)
#hari1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesinal

No comments:
Post a Comment